Jiwaku saat ini begitu
rapuh. Entah kenapa air mata terus saja mengalir tanpa aku tahu untuk alasan
apa dia keluar. Terasa rasa sedih menyesakan diri begitu dalam, sehingga
matapun sulit terpejam. Kucoba memikirkan apa yang sebetulnya sedang aku pikirkan sehingga terasa begitu memilukan hati. Hanya sesak yang ada.
Ku coba merangkai masa
lalu, begitu banyak suka yang telah dilalui. Tetapi mengapa hati ini berduka
padahal menyadari perimbangan suka lebih besar dibandingkan duka. Rupanya aku
merajut penyesalan, begitu banyak waktu terbuang. Begitu dosa luas berkembang.
Begitu sedikit rasa sukur berwujud. Hanya ada bualan tentang merajut masa
depan. Aku telah kalah melawan waktu.
Alhamdulillah, aku
menyadari sekarang, saat aku belum sepenuhnya menghancurkan diri. Tapi, apakah
aku kuat untuk merubah kekalahanku menjadi kemenangan gemilang. Apakah aku
mampu menerbitkan matahari di hati dengan untaian cahaya berhias pelangi dan
bermekaran bunga-bunga. Aku takut, aku begitu rapuh.
Rencana-rencana besar
memacetkan pemikiran sadar di kepala ku. Aku tidak mampu memilih dengan
angkutan apa aku akan menuju jalan yang terbentang ke depan. Berjalan, aku
rasanya terlalu rapuh.
Tanggung jawab, rasanya
begitu berat di pikul. Aneh, aku menyadari bahwa tidak ada yang membebankan kepada
ku tanggung jawab itu. Dia datang sendiri, kadang aku yang mengundangnya.
Ketika dia datang, aku tersungkur dalam anomali. Begitu mengecewakan
ditengah-tengah gelombang kepercayaan yang terus mengalir, aku tidak mampu
dipertahankan.
Ku coba lebih dalam
lagi memasuki diriku, berpikir di alam pemikiran yang mengalir sendiri. Terurai
samar film pendek perjalanan hidup. Aku memeriksa mana yang tidak bahagia, aku
gagal. Aku memeriksa sisi mana yang bahagia, aku menemukan banyak. Tapi, kenapa
aku sedih hari ini, menyesal begitu dalam?
Aku menemukan diriku
duduk terengah-engah disudut ruang gelap bersidekap lutut yang gemetaran. Aku
ingin sekali melangkah menghidupkan saklar lampu yang tidak begitu jauh, tapi
kaki ku tidak lagi kurasakan, saklar dalam jangkaun pun tak mampu kuraih. Aku
hanya mampu duduk dan semakin menciut, semakin mengecil. Aku berharap setan
datang untuk memberi wujud kepada ketidakmampuanku melawan, agar aku tahu aku
melawan apa.
Aku berharap ada yang
membuka pintu ruangan ini, menuntunku keluar menuju kegemilangan asa perkasa.
Aku menunggu, tapi mereka tidak kunjung membukanya. Mereka berlalu lalang di
depan pintu itu, tanpa mengerti aku menunggu mereka. Mereka menambah sesak ku.
Aku tahu sepenuhnya bahwa aku tidak dapat menggantungkan harapanku kepada mereka,
mereka tidak akan mengerti. Kecuali mereka memerlukan aku, mereka tidak akan
membuka pintu ruangan ini, mereka akan membiarkan aku menciut semakin kecil
sambil terus menimpakan harapan-harapan dan omong-kosong mereka kepadaku.
Sendiri aku dikegelapanku sendiri.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar