Laman

Minggu, 07 Oktober 2012

Sendiri Aku Dikegelapanku Sendiri

Jiwaku saat ini begitu rapuh. Entah kenapa air mata terus saja mengalir tanpa aku tahu untuk alasan apa dia keluar. Terasa rasa sedih menyesakan diri begitu dalam, sehingga matapun sulit terpejam. Kucoba memikirkan apa yang sebetulnya sedang aku pikirkan sehingga terasa begitu memilukan hati. Hanya sesak yang ada.
Ku coba merangkai masa lalu, begitu banyak suka yang telah dilalui. Tetapi mengapa hati ini berduka padahal menyadari perimbangan suka lebih besar dibandingkan duka. Rupanya aku merajut penyesalan, begitu banyak waktu terbuang. Begitu dosa luas berkembang. Begitu sedikit rasa sukur berwujud. Hanya ada bualan tentang merajut masa depan. Aku telah kalah melawan waktu.
Alhamdulillah, aku menyadari sekarang, saat aku belum sepenuhnya menghancurkan diri. Tapi, apakah aku kuat untuk merubah kekalahanku menjadi kemenangan gemilang. Apakah aku mampu menerbitkan matahari di hati dengan untaian cahaya berhias pelangi dan bermekaran bunga-bunga. Aku takut, aku begitu rapuh.
Rencana-rencana besar memacetkan pemikiran sadar di kepala ku. Aku tidak mampu memilih dengan angkutan apa aku akan menuju jalan yang terbentang ke depan. Berjalan, aku rasanya terlalu rapuh.
Tanggung jawab, rasanya begitu berat di pikul. Aneh, aku menyadari bahwa tidak ada yang membebankan kepada ku tanggung jawab itu. Dia datang sendiri, kadang aku yang mengundangnya. Ketika dia datang, aku tersungkur dalam anomali. Begitu mengecewakan ditengah-tengah gelombang kepercayaan yang terus mengalir, aku tidak mampu dipertahankan.  
Ku coba lebih dalam lagi memasuki diriku, berpikir di alam pemikiran yang mengalir sendiri. Terurai samar film pendek perjalanan hidup. Aku memeriksa mana yang tidak bahagia, aku gagal. Aku memeriksa sisi mana yang bahagia, aku menemukan banyak. Tapi, kenapa aku sedih hari ini, menyesal begitu dalam?
Aku menemukan diriku duduk terengah-engah disudut ruang gelap bersidekap lutut yang gemetaran. Aku ingin sekali melangkah menghidupkan saklar lampu yang tidak begitu jauh, tapi kaki ku tidak lagi kurasakan, saklar dalam jangkaun pun tak mampu kuraih. Aku hanya mampu duduk dan semakin menciut, semakin mengecil. Aku berharap setan datang untuk memberi wujud kepada ketidakmampuanku melawan, agar aku tahu aku melawan apa.
Aku berharap ada yang membuka pintu ruangan ini, menuntunku keluar menuju kegemilangan asa perkasa. Aku menunggu, tapi mereka tidak kunjung membukanya. Mereka berlalu lalang di depan pintu itu, tanpa mengerti aku menunggu mereka. Mereka menambah sesak ku. Aku tahu sepenuhnya bahwa aku tidak dapat menggantungkan harapanku kepada mereka, mereka tidak akan mengerti. Kecuali mereka memerlukan aku, mereka tidak akan membuka pintu ruangan ini, mereka akan membiarkan aku menciut semakin kecil sambil terus menimpakan harapan-harapan dan omong-kosong mereka kepadaku.
           Sendiri aku dikegelapanku sendiri.

                                                                         ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar